BOGOR — “Assalamualaikum, pagi… Gimana istirahatnya biar pada nyaman ya, sekarang Ibu mau bersihin dulu nih, bersihin kotoran dulu ya supaya entar kalau udah bersih udah rapi kamu makannya enak biar kamu tuh nyaman bersih sehat,” celotehan Nur Hasanah, bukan kepada manusia, namun kepada ayam-ayam peliharaan titipan Dompet Dhuafa.
Kalimat-kalimat sederhana itu selalu menjadi pembuka pagi Nur Hasanah setiap kali ia melangkah masuk ke kandang Plasma Ayam Arab, program pemberdayaan ekonomi Zona Madina Dompet Dhuafa.

Bagi Nur, sapaan itu adalah bentuk penghargaan kepada makhluk hidup yang setiap hari turut menghidupkan harapan keluarganya. Ia percaya, ayam-ayam itu telah “bekerja” menghasilkan telur, sementara dirinya bertugas merawat ayam-ayam tersebut.
Nur Hasanah (47) menjadi salah satu dari 10 penerima manfaat program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan Dompet Dhuafa. Melalui program tersebut, perlahan menguatkan perekonomian keluarganya lewat usaha ternak ayam arab yang kini ia rawat setiap hari.


Kandang plasma milik Nur bertempat di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Setiap penerima manfaat mendapatkan masing-masing 250 ekor ayam, termasuk Nur Hasanah.
“Alhamdulillah saya terpilih menjadi penerima bantuan ya berupa Ayam Arab yang menghasilkan telur, kita semua difasilitasi dari Zona Madina Dompet Dhuafa dari pembuatan kandang dari kandang baterai sampai seluruh alat-alat, pakan ternak dan vitamin termasuk ayam-ayamnya ada 250,” cerita Nur.

Nur mengaku perjalanannya menjalani program ternak ayam Arab tidak berlangsung mudah. Sebelummnya ia bekerja sebagai pemasang payet dan mote dari pesanan penjahit.
Sebelum bergabung dalam program ini, Nur juga sempat menekuni budidaya ikan hias. Namun usaha itu tak mampu bertahan ketika pandemi Covid-19 melanda. Permintaan menurun drastis, pemasukan terhenti, hingga akhirnya ia harus merelakan usaha tersebut dan melewati masa-masa tanpa pekerjaan.

Tanpa diduga, jalan hidup justru membawanya bertemu dengan program pemberdayaan yang memberinya kesempatan untuk kembali bangkit. Meskipun, dunia peternakan benar-benar hal baru baginya, sehingga ia harus belajar dari nol sambil perlahan memahami cara merawat ayam, menjaga kandang, hingga menghadapi berbagai kendala yang datang silih berganti.
Kurang lebih enam bulan menjalani program pemberdayaan ini, fase trial and error pun terus ia lalui. Di awal merawat ayam Arab, ia beberapa kali kehilangan ternaknya karena penyakit. Kondisi itu sempat membuatnya khawatir dan merasa kewalahan.

Namun keadaan mulai berubah. Ayam-ayamnya mulai menghasilkan telur sedikit demi sedikit, dari lima butir, lalu sepuluh butir, hingga kini rata-rata mencapai sekitar 150-160 butir telur setiap hari.
“Saya punya rasa tanggung-jawab jadi menjaga kualitasnya, alhamdulillah kan udah dibantu. Bagian kata orang mungkin nggak seberapa tapi bagi saya mah berarti begitu, apalagi dari donasi zakat,” lanjut Nur.

Kini, Nur memperoleh ratusan butir telur ayam setiap hari. Ia juga bercerita sudah bisa memetik hasil dari perjuangan yang ia lakukan selama ini. Termasuk gaji pertamanya dari hasil peternakan telur ayam arab ini.
“Alhamdulillah bisa mengurangi resiko dapur kita lah seperti itu. Alhamdulillah udah berjalan tiga bulan udah ada hasilnya semoga yang pada zakat infaq ke Dompet Dhuafa biar sehat biar panjang umur biar ditambah banyak rezekinya kita yang nerima ini semua bermanfaat juga buat saya buat keluarga saya,” cerita Nur.

Dari peternakan telur ini, Nur bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp 7 juta per bulan. Pendapatan tersebut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, mulai dari kebutuhan dapur hingga biaya sekolah putrinya yang saat ini duduk di bangku SMK. Ia tinggal bersama suami dan anak perempuannya.
Jumlah ayam arab di kandang Plasma Ayam Arab Nur saat ini terdapat sekitar 248 ekor ayam yang setiap hari dirawat Nur dengan telaten. Aktivitasnya dimulai dengan membersihkan kandang, lalu dilanjutkan memberi pakan dan vitamin pada pagi hingga siang hari, sekitar pukul 10.00 dan 13.00 WIB. Menjelang sore, sekitar pukul 16.00 WIB, ratusan butir telur yang dihasilkan ayam-ayam tersebut.


Setelah telur-telur dikumpulkan, Nur segera membersihkan satu per satu lalu menatanya rapi ke dalam krat telur. Krat-krat itu kemudian disusun dan diikat hingga lima sampai enam tingkat. Setelah semuanya siap, telur hasil produksi disetorkan ke Rumah UMKM Zona Madina untuk didistribusikan.
Bagi Nur, hasil yang ia dapatkan hari ini adalah buah dari proses panjang yang dijalani dengan kesabaran. Ia memilih untuk fokus merawat dan menjalankan apa yang ada di depannya, sementara hasil akhirnya ia serahkan kepada Sang Pemilik Rencana. Meski belum tahu akan sampai sejauh apa usahanya berkembang, setidaknya kini ia merasa sudah menemukan arah hidup yang ingin dituju.


“Alhamdulillah ya Allah terima kasih atas pertolonganmu lewat Dompet Dhuafa, saya jadi punya penghasilan lagi,” pungkas Nur.
Harapan Nur sederhana, semoga usaha yang sedang dijalani bisa terus lancar dan membawa keberkahan. Nur menyadari usahanya mungkin belum besar. Namun baginya, tanggung jawab terhadap hal-hal kecil menjadi langkah penting sebelum memegang sesuatu yang lebih besar.
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri Dompet Dhuafa
Penyunting: Dhika Dompet Dhuafa