Sarju dan Harapan yang Kembali Tumbuh di Kampung Susu Lawu

MAGETAN, JAWA TIMUR — Pagi belum sepenuhnya ramai di Kampung Susu Lawu, Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Di kawasan yang berada di kaki Gunung Lawu ini, aktivitas warga sudah dimulai sejak dini hari. Bagi para peternak sapi perah, pagi bukan sekadar waktu untuk memulai hari. Ada kandang yang harus dibersihkan, sapi yang harus dimandikan, pakan yang perlu disiapkan, hingga susu yang harus segera disetorkan. Ada kandang yang harus dibersihkan, sapi yang harus dimandikan, pakan yang perlu disiapkan, hingga susu yang harus segera disetorkan.

Rutinitas itu telah dijalani Sarju (55), warga Lingkungan Singolangu, selama belasan tahun. Sejak 2008, ia memilih menekuni peternakan sapi perah sebagai sumber penghidupan keluarganya.

“Kalau pengalaman, saya merawat sapi perah mulai tahun 2008. Sebelumnya saya belajar, belajar, belajar. Beberapa tahun akhirnya saya bisa beli sapi kecil-kecil. Saya rawat empat tahun, baru beranak,” cerita Sarju.

Saat itu, sebagian besar masyarakat Singolangu masih belum terbiasa melihat sapi perah sebagai pilihan usaha. Sarju sendiri sebelumnya lebih banyak memelihara sapi potong. Pengalamannya bekerja di Jakarta dan Bandung menjadi modal awal untuk membeli ternak.

Ia juga melihat peluang dari daerah lain. Dari cerita teman-temannya di Lembang dan Malang, Sarju mengetahui bahwa susu dari sapi perah dapat menjadi sumber penghasilan harian bagi peternak.

“Saya melihat daerah-daerah lain seperti Lembang dan Malang. Banyak yang merawat sapi perah. Saya mulai berpikir, kapan saya bisa punya sapi perah seperti teman-teman saya yang punya hasil harian maupun bulanan dari susu,” ujarnya.

Dari beberapa ekor sapi, Sarju kemudian mulai mengajak keluarganya membentuk kelompok peternak. Bukan karena ia tidak percaya kepada tetangga, tetapi karena ia ingin terlebih dahulu membuktikan bahwa sapi perah memang bisa menjadi sumber penghidupan.

“Saya waktu itu bikin kelompok. Boleh dikatakan kelompok keluarga, yang diajak saudara sendiri. Kalau ada keberhasilan, nanti orang lain pasti ingin ikut. Tapi kalau gagal, biar keluarga saya yang gagal,” katanya sambil tersenyum.

Pilihan itu perlahan membuahkan hasil. Pada 2013, kelompok yang dibentuk Sarju mendapatkan dukungan melalui program bantuan dari pemerintah daerah. Pendampingan juga dilakukan, mulai dari kesehatan ternak, pakan, hingga kondisi kandang.

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjadi salah satu masa paling berat bagi peternak di Singolangu. Bagi Sarju, dampaknya bukan sekadar berkurangnya jumlah ternak, tetapi juga hilangnya sumber penghasilan yang selama bertahun-tahun ia bangun.

Saat PMK menyerang, delapan sapi miliknya mati dan hanya tersisa satu ekor. Kondisinya pun sudah cukup parah hingga akhirnya harus dijual.

“Sapi saya delapan, tinggal satu. Itu sebenarnya masih hidup, cuma sudah parah. Akhirnya saya jual Rp3,5 juta. Modaln ya sudah habis,” kenangnya.

Selama hampir satu tahun setelah itu, Sarju tidak lagi memiliki sapi perah. Padahal, sejak memilih menekuni sapi perah, ia sudah menggantungkan penghasilan keluarga dari kandang. Lahan yang dimilikinya pun sebagian digunakan untuk menanam rumput sebagai pakan ternak.

“Kalau saya tidak merawat sapi, saya mau kerja apa? Biasanya setiap bulan dapat uang dari hasil susu. Setelah itu saya menganggur, tidak ada pemasukan. Bingung,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat Sarju dan peternak lainnya harus kembali menata usaha dari awal. Sebagian peternak memilih bertahan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan pinjaman untuk kembali memiliki ternak.

Bagi Sarju, kembali beternak bukan sekadar pilihan usaha. Ia sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam merawat sapi perah dan tahu bahwa dari sanalah kehidupan keluarganya selama ini bertumpu.

Harapan itu kembali tumbuh ketika Dompet Dhuafa hadir melalui program pemberdayaan di Kampung Susu Lawu (KSL), Singolangu.

Singolangu sendiri memiliki potensi yang kuat untuk dikembangkan sebagai kawasan berbasis peternakan dan wisata. Pada 2019, Pemerintah Kabupaten Magetan menetapkan Singolangu sebagai salah satu destinasi wisata baru dengan branding Kampung Susu Lawu.

Lokasinya yang berada sekitar 4,5 kilometer dari kawasan wisata Telaga Sarangan menjadi peluang untuk mengembangkan wisata edukasi berbasis peternakan sapi perah, pengolahan susu, dan kehidupan masyarakat setempat.

Melihat potensi tersebut, Dompet Dhuafa mengembangkan program pemberdayaan yang mengintegrasikan tiga sektor, yakni agrowisata, peternakan, dan UMKM. Pengembangan peternakan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas susu, sementara sektor UMKM diperkuat agar masyarakat mampu menghasilkan produk olahan susu dengan kualitas dan nilai jual yang lebih baik.

Dalam program tersebut, Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan ROIS OJK mendapatkan dukungan Pemerintah Kabupaten Magetan. Bagi Sarju, dukungan tersebut terasa langsung di kandangnya. Ia menjadi salah satu peternak yang mendapatkan bantuan sapi dengan bibit yang menurutnya memiliki kualitas lebih baik.

“Kalau tidak ada bantuan dan dukungan ini, saya mungkin saya secara pribadi tidak bisa menambah sapi sampai sekarang,” ujarnya.

Kini, sapi bantuan tersebut dirawat Sarju dengan penuh perhatian. Baginya, ternak bukan sekadar aset, melainkan sumber penghidupan yang harus dijaga agar dapat memberikan hasil untuk keluarganya.

“Menurut saya, sapinya sudah super bagus kualitasnya. Saya dengan senang hati merawat sebaik-baiknya. Bibitnya sudah luar biasa, hasilnya juga lebih dari luar biasa,” katanya.

Sekitar pukul lima pagi, Sarju sudah berada di kandang. Sapi dimandikan, kandang dibersihkan, kemudian proses pemerahan dilakukan. Setelah itu, susu dibawa ke calling unit atau koperasi untuk disetorkan.

Sore hari, rutinitas serupa kembali dilakukan. Sekitar pukul setengah empat, Sarju sudah kembali masuk kandang untuk memandikan dan memerah sapi. Pemberian pakan dan vitamin juga diberikan kepada sapi tersebut.

Pakan menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas sapi. Sarju menggunakan rumput gajah, konsentrat, serta hijauan tambahan seperti daun kaliandra. Untuk memenuhi kebutuhan rumput, para peternak di kawasan tersebut juga bekerja sama dengan Perhutani melalui sistem kerja sama pemanfaatan lahan. Menurut Sarju, perawatan yang baik akan berpengaruh pada kualitas susu dan kesehatan sapi.

“Kalau perawatan maksimal, bagus, gantinya sapi juga memberikan hasil. Anaknya bagus, susunya juga bagus, kualitas susunya baik,” katanya.

Ia memahami betul bahwa susu yang dihasilkan bukan hanya soal pendapatan peternak. Produk tersebut nantinya juga dikonsumsi masyarakat, termasuk anak-anak. Karena itu, kebersihan menjadi perhatian utama. Kandang harus bersih, sapi harus bersih, begitu pula peternak yang melakukan proses pemerahan. Bagi Sarju, seekor sapi perah memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar jumlah ternak di dalam kandang.

Dari susu yang dihasilkan setiap hari, ada kebutuhan keluarga yang dapat dipenuhi. Ada pemasukan yang terus berputar dan ada kesempatan bagi keluarga untuk tetap bertahan dan berkembang.

“Alhamdulillah lumayan. Bisa untuk ekonomi keluarga. Itu bisa dikatakan hasil utama. Dari susu sapi itu untuk mendongkrak ekonomi,” ujarnya.

Karena itu, ketika bantuan sapi datang melalui program pemberdayaan Dompet Dhuafa dengan dukungan ROIS OJK, Sarju melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk kembali memperkuat sumber penghidupannya.

“Kalau masalah terbantu, bagi saya sudah tidak terhitung. Saya sangat-sangat berterima kasih. Kalau tidak ada ROIS OJK, yang jelas saya tidak bisa menambah sapi,” ucapnya.

Ia berharap dukungan tersebut tidak berhenti pada bantuan ternak, tetapi terus berkembang bersama ekosistem Kampung Susu Lawu. Sebab, menurutnya, ketika peternak memiliki ternak yang sehat dan produktif, dampaknya bisa merambat ke banyak sektor lain.

Ada ibu-ibu yang mengolah susu. Ada masyarakat yang menjalankan usaha. Ada wisata yang dapat berkembang. Ada pula lapangan penghidupan yang terus bergerak.

“Ini motivasi yang luar biasa untuk menambah pendapatan. Ada ibu-ibu yang mengolah susu, ada kesehatan masyarakat, termasuk wisata di sini. Saya senang sekali,” katanya.

Bagi Sarju, kebangkitan Kampung Susu Lawu bukan hanya tentang membangun kembali jumlah sapi yang pernah hilang. Lebih dari itu, ada harapan untuk membangun kembali kehidupan masyarakat melalui potensi yang selama ini mereka miliki.

Dari kandang sederhana di lereng Lawu, Sarju kembali memulai. Satu per satu sapi dirawat, susu diperah setiap pagi dan sore, dan roda ekonomi keluarga kembali bergerak. Sebab, bagi seorang peternak seperti Sarju, ketika sapi kembali ada di kandang, harapan untuk masa depan pun ikut tumbuh.

Teks dan foto: Elfi Handayani, Aryo Prasojo Dompet Dhuafa
Penyunting: Andhika S Prabowo Dompet Dhuafa