BOGOR — Pagi itu terasa berbeda bagi Hanisah Pramsiska, bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Perempuan itu sudah terbangun dengan semangat menggebu yang sulit disembunyikan, hal itu terlihat dari wajahnya yang sangat antusias menyambut sesuatu yang telah ia nantikan sejak lama.
Tidak ada waktu untuk berlama-lama di atas kasur. Hanisa mulai sibuk dengan rutinitas yang sudah akrab dijalani bertahun-tahun. Satu per satu peralatan memasak disiapkan. Tumpukan panci, wadah-wadah bumbu, hingga bahan makanan yang akan diolah hari itu telah ia kemas.

Setelah semua perlengkapan siap, Hanisa menuju tempat yang akan menjadi saksi perjuangannya. Sebuah tempat untuk ia menghidupi keluarganya. Di sebuah bundaran persimpangan yang berada di tengah kawasan perumahan di Desa Pasir Angin, Kecamatan Cileungsi, berdirilah kios sederhana yang kini telah menjadi miliknya. Ukurannya tidak besar, tetapi cukup kokoh untuk menaungi mimpi-mimpi dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ya, kios kecil itu telah berdiri. Sebuah kios yang berasal dari kolaborasi kebaikan antara Dompet Dhuafa dan Yayasan OK OCE Kemanusiaan. Selain kios milik Hanisa yang bertuliskan Kedai Mamim’s, telah berdiri juga kios-kios lainnya.

Hanisah langsung menyusun alat dan bahan yang telah ia bawa dari rumah, tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kiosnya. Kurang lebih dalam jarak 100 meter dari rumahnya. Sesekali ia juga menyapa para pemilik kios yang lain, beberapa ada yang sudah ia kenal.
Hanisah menjadi satu dari 10 penerima manfaat program Foodcourt Nusadaya Pasir Angin yang telah diinisiasi Dompet Dhuafa melalui Yayasan Indonesia Berdaya.

“Ini adalah salah satu impian dari mayoritas masyarakat yang ada di Desa Pasir Angin,” kata Hanisah.
Selama bertahun-tahun, Hanisah mengandalkan usaha kuliner sederhana untuk menopang kebutuhan keluarganya. Beragam menu pernah ia jajakan kepada pelanggan, mulai dari baso aci yang hangat, aneka gorengan, hingga pecel ayam yang menjadi salah satu andalan.

Tak berhenti berinovasi, belakangan ia juga mulai mencoba menghadirkan menu baru berupa chicken steak, berharap dapat menarik lebih banyak pembeli.
Sebelum memiliki kios, Hanisah menjalankan usahanya dengan segala keterbatasan. Ia berjualan dari rumah dan sesekali berpindah-pindah lokasi mengikuti keramaian. Salah satu tempat yang kerap ia tuju adalah kawasan Car Free Day (CFD), tempat masyarakat berkumpul untuk berolahraga dan menikmati akhir pekan.
Namun, berjualan secara mobile bukanlah perkara mudah. Pendapatan yang diperoleh sering kali tidak menentu. Ada hari-hari ketika dagangannya laris dan hampir habis terjual, tetapi tidak jarang pula ia harus pulang dengan membawa sebagian dagangan yang masih tersisa. Ketidakpastian itu menjadi bagian dari perjuangan yang harus dihadapinya setiap pekan.

“Dari yang tadinya kita jualan hanya di rumah bahkan hanya terima open pre order (PO) itupun nggak setiap hari sedangkan kita kebutuhan setiap hari sedangkan berjualan hari ini bisa jualan, besok bisa nggak,” keluh Hanisah.
Belum lagi, Hanisah juga dibebani berbagai biaya operasional yang cukup besar. Dalam satu hari, ia kerap mengeluarkan sejumlah uang untuk berbagai pungutan, mulai dari biaya kebersihan hingga iuran yang dipungut oleh beberapa kelompok di lokasi berjualan. Belum termasuk biaya pendaftaran yang harus dibayarkan agar dapat berjualan di area tersebut.
Di sisi lain, mobilitas yang tinggi juga membuat pengeluaran transportasinya meningkat. Biaya bensin yang dikeluarkan untuk perjalanan pulang-pergi pada Sabtu dan Minggu dapat mencapai sekitar Rp100 ribu. Berbagai pengeluaran tersebut membuat keuntungan yang diperoleh dari berjualan sering kali tergerus.

“Sedangkan di sini rumah saya dekat nggak sampai 100 meter, jalan kaki bisa yang tadinya saya harus beli bensin untuk berjualan mobile akhirnya menekan biaya itu, terus kedua kita dapat fasilitas booth atau kios seperti ini tidak usah bongkar tenda,” lanjut Hanisah.
Selain mendapat booth, Hanisah juga mendapatkan bantuan modal untuk membantu meringankan beban usahanya, juga mendapatkan pelatihan dan pembinaan hingga legalitas perizinan dan sertifikasi halal, Dompet Dhuafa juga bermitra dengan Universitas Indonesia Halal Center (UIHC) untuk membantu mengurus sertifikasi kehalalan setiap UMKM.
Sebelumnya penghasilannya tak menentu mulai dari Rp150 ribu hingga Rp400 ribu, namun belakangan ini kerap kali memikirkan dan dihantui bayang-bayang ketidakpastian ekonomi yang sedang terjadi sekarang, ditambah lagi nilai tukar rupiah yang pada awal Juni 2026 sempat menyentuh kisaran Rp18.100 per dolar AS, mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan usaha dan rumah tangga.
Tekanan tersebut makin terasa ketika harga bahan bakar mengalami kenaikan. Bagi Hanisah yang selama ini mengandalkan kendaraan untuk berjualan secara mobile, kenaikan biaya transportasi menjadi beban tambahan yang sulit dihindari.
“Yang jelas berarti itu dialokasikan untuk kebetulan anak saya kan ada yang lagi skripsi, ada yang SMA itu lagi butuh banyak biaya dan akhirnya biaya yang untuk pengeluaran tadi itu bisa untuk saya kumpulkan saya kirim ke anak yang lagi kuliah di luar kota,” ungkap Hanisah, lega.
“Sama bahkan bisa melebihi gitu bisa untuk kita tabung,” sambungnya.

Hanisah berharap ke depannya bisnis yang sedang ia jalani makin laris dan sukses, ia menjelaskan setelah mendapatkan pembinaan dari Dompet Dhuafa selama dua tahun, ia dan para pedagang lainnya bisa mandiri termasuk memiliki ruko sendiri.
“Kami merasa terbantu saya sangat berterima kasih sekali dengan adanya program ini dari bantuan dari Dompet Dhuafa, OK OCE Kemanusiaan dan UI Halal Center program ini sangat membantu khususnya saya yang ya ibu rumah tangga yang tadinya hanya berjualan di rumah saja, sekarang bisa punya booth sebagus ini sekeren ini… alhamdulillah. Semoga program ini berkelanjutan ke depannya, bisa dirasakan lagi manfaatnya untuk orang yang lebih banyak lagi,” pungkas Hanisah.
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri Dompet Dhuafa
Penyunting: Dhika Dompet Dhuafa