Budidaya Cacing Tanah

Kec. Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Riau.

Deskripsi Program
Budidaya cacing sangat menguntungkan dari segi ekonomis maupun pelestraian lingkungan. Dalam seluruh daur hidup budidaya cacing semuanya bermanfaat dalam menjaga keseimbangan lingkungan yang holistik. Pakan cacing dapat memanfaatkan limbah organik seperti limbah media budidaya jamur, ampas tahu, kotoran sapi, serbuk kayu, batang pisang, dan pelepah sawit yang banyak tersedia di kebun sawit sekitar Tenayan. Pakan tersebut sekaligus menjadi media bagi cacing untuk hidup. Jenis cacing yang dibudidayakan adalah African Night Crawler, Lumbricus rubellus, dan Eisenia Foetida (cacing tiger). Limbah media tempat hidup itu diurai oleh cacing  kemudian bisa menjadi revenue tambahan yang dihasilkan dari budidaya cacing tanah yaitu pupuk kascing.

Tahun Mulai Program

Program Budidaya Cacing Tanah dimulai tahun 2023 dan diintervensi oleh Indonesia Berdaya pada tahun 2024. 

Jumlah penerima manfaat program Budidaya Cacing Tanah yaitu 7 orang.

Intervensi Indonesia Berdaya
Intervensi Indonesia Berdaya dalam menjalankan program ini yaitu bantuan sarana produksi budidaya cacing tanah berupa bak cacing tanah, 50 kg bibit cacing tanah, media ternak cacing tanah seperti baglog jamur maupun solid sawit dan pakan cacing tanah selama 4 bulan (siklus-1).

Sarana produksi kandang budidaya cacing tanah
Bak budidaya cacing tanah

Program ini digulirkan dengan target Dampak finansialnya yaitu penerima manfaat memiliki penghasilan tambahan dari usaha budidaya cacing tanah.

Dampak sosial dari program ini yaitu bertambahnya jumlah pembudidaya cacing tanah dari 3 orang menjadi 7 orang dengan estimasi pendapatan Rp 500 ribu – 2 Juta /bulan/PM, bertambahnya wawasan masyarakat sekitar akan manfaat budidaya cacing tanah baik dari segi ekonomi maupun lingkungan.

Program ini sangat baik dalam mendorong pengembangan usaha kelompok di masyarakat. Mengingat bahwa dana yang digunakan berasal dari zakat. Harapannya, melalui program ini para penerima manfaat dapat berkembang menjadi lebih mandiri, sehingga ke depan bukan lagi menjadi pihak yang menerima zakat, tetapi justru mampu berkontribusi dan menyalurkan zakat kepada sesama.

Fahrul Aziz – Lokal Leader