SINJAI, SULAWESI SELATAN — Setelah sukses menggelar Sound of Humanity for NTT, Dompet Dhuafa melalui Cabang Sulawesi Selatan menggelar Heartventure Sewindu Kopi Sinjai. Kegiatan ini digelar untuk melihat seperti apa program pemberdayaan Dompet Dhuafa yang berbasis potensi kopi lokal di Sinjai Barat. Sekaligus, merayakan delapan tahun perjalanan Program Kopi Sinjai, di Kawasan Madaya Sinjai, Kabupaten Sinjai.
Kegiatan yang berlangsung pada 4-6 September 2026 ini mengajak 10 konten kreator dan media. Para peserta diajak melihat langsung perjalanan program dari hulu hingga hilir, sekaligus mengenal berbagai aktivitas pemberdayaan yang telah dikembangkan selama delapan tahun.


Setibanya di Kawasan Madaya, Dusun Idaman, Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat, peserta mendapatkan pengenalan mengenai perjalanan Program Kopi Sinjai dan ekosistem Madaya Sinjai dari Ramly selaku local leader.
Perubahan itu berjalan bersama Program Kopi Sinjai yang kini memasuki tahun kedelapan. Program yang sebelumnya dikenal sebagai Pemberdayaan Kopi Patongko tersebut tidak lagi berhenti pada urusan produksi dan pemasaran kopi. Sejak 2023, pengembangan Madaya Sinjai diperluas untuk menjangkau berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Kawasan yang dahulu hanya berupa lahan di belakang rumah dan dipenuhi sampah tersebut perlahan berubah menjadi ruang pemberdayaan sekaligus wisata edukasi masyarakat.



“Saya selalu bilang begini: di belakang rumah itu sebenarnya surga, tapi orang tidak melihat itu,” ujar Ramly.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti perjalanan ke Desa Menra untuk melihat langsung kebun kopi binaan petani. Di lokasi, peserta dikenalkan dengan beberapa jenis kopi yang ditanam, seperti Excelsa, Liberika, Robusta, dan Arabika. Mereka juga menyaksikan proses pemetikan dan sortasi buah kopi hingga mencicipi kopi Excelsa yang diolah dengan metode Natural Mosto.
“Saat ini kita hanya bisa melihat kopi jenis Excelsa karena panen kopi Arabika dan Robusta telah berlalu. Excelsa ini memiliki karakter yang unik dengan cita rasa buah dan keasaman yang khas,” jelas Ramly.


Peserta juga diajak menanam bibit kopi Robusta, melihat pengolahan gula aren, dan mencicipi panganan lokal. Rangkaian tersebut memperlihatkan potensi yang dimiliki masyarakat dan lingkungan sekitar ketika dikelola bersama.
Lebih lanjut, menurut Ramly kopi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan pintu masuk menuju perubahan yang lebih luas bagi masyarakat.
Rangkaian dilanjutkan dengan sharing session bersama perwakilan Bappeda, mitra PLN, dan Chef La Ode Syaiful Rahman mengenai potensi daerah dan keberlanjutan pemberdayaan di Kawasan Madaya Sinjai.


Salah satu konten kreator, Dian Syafira, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan tersebut. “Luar biasa rasanya bisa berbagi seperti ini. Saat anak-anak senang, otomatis kita juga ikut senang. Ternyata kebaikan itu menular tanpa kita sadari,” ungkap Dian.
Sementara itu, Andriani, salah satu peserta Heartventure, turut mengungkapkan rasa harunya setelah mengikuti rangkaian kegiatan selama tiga hari. Ia melihat langsung bagaimana donasi yang terlihat kecil dapat memberikan dampak bagi masyarakat.
“Uang seribu dua ribu yang kita anggap kecil, ternyata bisa menghadirkan mimpi baru buat adik-adik kita di sini,” tuturnya.

PIC Program Ekonomi Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, Rahmania, mengatakan bahwa berbagai program pemberdayaan dapat berjalan berkat dukungan para donatur dan mitra. Menurutnya, pemberdayaan dirancang agar manfaatnya tidak berhenti dalam jangka pendek, tetapi dapat terus tumbuh dan dirasakan masyarakat hingga generasi berikutnya.
“Dompet Dhuafa terus menghadirkan program-program yang berdampak, bukan hanya di Sinjai. Ada Kopi Kahayya di Bantaeng, Kopi Letta di Pinrang, Kebun Inklusi di Bulukumba, Warung Makan Lesehan Macca di Gowa, dan masih banyak program lainnya,” jelas Rahmania.



Ia menambahkan, keterlibatan media dan konten kreator menjadi bagian penting untuk memperluas cerita pemberdayaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Dari acara ini, kita harapkan melalui tangan-tangan influencer dan content creator, keberadaan Dompet Dhuafa bisa lebih dikenal masyarakat,” ujar Rahmania.
Delapan tahun perjalanan Kopi Sinjai menjadi bukti bahwa sebuah komoditas dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya berbagai kebaikan. Dari kopi, tumbuh ekonomi, pengetahuan, kolaborasi, hingga harapan baru bagi masyarakat.
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri, Dompet Dhuafa
Penyunting: Andhika S Prabowo, Dompet Dhuafa