Program Bakso Bager Jadi Harapan Baru Bagi Wahyudin

JAWA BARAT — Di tengah ketidakpastian ekonomi, program pemberdayaan dari Dompet Dhuafa terus menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan. Salah satunya adalah Program Bakso Bager yang telah membantu banyak individu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Salah satu penerima manfaatnya adalah Pak Wahyudin (52), warga Bogor yang kini memiliki harapan baru dalam menjalani hidupnya.

Pak Wahyudin adalah kepala keluarga dengan enam anak. Satu anaknya telah lulus dan bekerja, sementara lima lainnya masih bersekolah. Ia telah merasakan pahit-manisnya hidup, dari memiliki pekerjaan tetap hingga harus merasakan getirnya kehilangan sumber penghasilan.

Selama enam tahun, ia bekerja sebagai karyawan di sektor perhotelan. Namun, ketika pandemi Covid-19 melanda, dunia seperti berhenti berputar. Tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan besar-besaran, dan Pak Wahyudin termasuk satu yang harus rela kehilangan pekerjaan. Saat itu, ia merasa dunia seolah runtuh di hadapannya. Dengan lima anak yang masih sekolah, bagaimana ia bisa bertahan? Bagaimana ia bisa memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan pendidikan yang layak?

Setahun penuh ia menganggur, ia mencari pekerjaan ke sana kemari tanpa hasil. Hari-harinya diisi dengan harapan yang terus pupus, sementara kebutuhan rumah tangga terus menghimpitnya tak pernah putus. Hingga akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan sebagai buruh pembuat kursi sofa di sebuah perusahaan furnitur. Dua tahun ia jalani pekerjaan ini dengan tekun, berharap ada kepastian hidup di masa mendatang. Namun, ketika kontrak kerja habis, ia kembali terjatuh dalam jurang ketidakpastian. Ia kembali menganggur dan hanya bisa bekerja secara serabutan sambil menunggu tawaran pekerjaan dari orang-orang di sekitarnya.

“Setelah dari situ, saya cuma serabutan. Nunggu ada yang ngasih kerjaan aja baru saya kerjakan. Seringnya sih ya jadi kuli bangunan. Itu biasanya warga-warga sekitar sini saja,” ungkap Wahyudin menceritakan perjalanan hidupnya, Jumat (21/02/2025).

Pak Wahyudin sedang menemani salah satu anaknya belajar di rumah.
Pak Wahyudin sedang menyiapkan beberapa bahan bakso di dapur rumahnya.

Ketidakpastian ini membuatnya makin cemas, mengingat kebutuhan hidup yang sangat keras serta pendidikan anak-anaknya yang terus berjalan. Setiap malam, ia termenung memikirkan jalan keluar. Hingga akhirnya, seorang tetangga memberi tahu tentang Program Bakso Bager dari Dompet Dhuafa. Dengan harapan besar, Pak Wahyudin mendaftarkan diri. Ia begitu tertarik untuk mendaftar. Setelah melalui proses seleksi, ia dinyatakan lolos sebagai penerima manfaat.

“Di saat saya benar-benar sudah kebingungan harus bekerja seperti apa lagi, mau usaha pun juga tidak tahu ilmunya dan tidak punya modal, ada tetangga saya yang kasih info tentang program ini. Alhamdulillah, saya diterima dan dibimbing dari nol,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Program Bakso Bager tidak hanya memberikan modal usaha, tetapi juga pendampingan dan pelatihan selama satu tahun. Para penerima manfaat diajarkan berbagai keterampilan, mulai dari pembuatan bakso, manajemen keuangan, hingga strategi pemasaran. Selain itu, mereka juga dibentuk dalam kelompok usaha yang beranggotakan enam orang, dengan satu orang sebagai ketua.

“Mekanisme kelompok ini membantu dalam pengelolaan kas bersama serta saling memotivasi. Setiap dua minggu sekali, mereka melakukan pertemuan untuk berbagi pengalaman dan menyelesaikan kendala usaha,” jelas Ilham Taufiq Hidayatullah, PIC Program Bakso Bager Dompet Dhuafa.

Selain itu, untuk mempermudah para penerima manfaat yang belum terbiasa dengan usaha, Dompet Dhuafa masih menyuplai bahan baku hingga mereka bisa mandiri dalam pengadaan stok.

Pak Wahyudin dengan gerobak Bakso Bager-nya.
Pak Wahyudin mendorong gerobak bakso Bager menuju Pos Kamling.
Anak-anak dan warga sekitar sedang memesan Bakso Bager.

Kini, Pak Wahyudin dan istrinya menjalankan usaha bakso setiap hari. Rutinitas mereka dimulai sejak Subuh dengan belanja bahan-bahan di pasar. Setelah menyiapkan dagangan, mereka berangkat ke titik jualan di dekat pos kamling. Lokasi ini menjadi titik paling strategis di lingkungan tersebut. Pasalnya, semua orang di sana pasti melewatinya saat akan keluar masuk lingkungan di sana. Maksimal waktu Magrib, ia sudah mengemasi dagangannya dan pulang ke rumah.

“Pagi-pagi saya belanja dulu, istri menyiapkan bahan. Setelah anak-anak berangkat sekolah, kami mulai berjualan hingga sore menjelang Magrib,” tuturnya.

Selama satu bulan berjalan, usaha bakso ini mulai memberikan hasil. Meskipun masih dalam tahap awal, Pak Wahyudin sudah merasakan manfaatnya. Dalam sehari, biasanya berhasil terjual puluhan porsi.

“Memang belum seberapa, tapi alhamdulillah, sekarang saya punya pemasukan. Bisa kasih anak-anak uang saku, beli buku sekolah, dan memenuhi kebutuhan dapur,” ujarnya dengan penuh syukur.

Program Bakso Bager dirancang sebagai program jangka panjang dengan pembinaan selama satu tahun. Selain modal usaha dan pelatihan, rencana ke depan adalah membentuk mekanisme koperasi agar usaha ini makin kuat. Saat ini, Program Bakso Bager telah berjalan dengan 30 penerima manfaat dan menargetkan 120 penerima manfaat secara bertahap.

Pak Wahyudin dan istrinya sedang melayani pesanan bakso.
Istri Pak Wahyudin sedang melayani pesanan bakso.
Pak Wahyudin dan sang istri dengan gerobak Bakso Bager-nya.

Namun, agar program ini terus berjalan dengan lancar dan benar-benar memberikan dampak yang signifikan bagi para penerima manfaat, Dompet Dhuafa mengharapkan dukungan dari berbagai pihak. Semakin banyak masyarakat yang mendukung program ini, semakin besar pula kesempatan bagi lebih banyak orang yang membutuhkan untuk bangkit dari keterpurukan.

“Kami berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, baik individu, komunitas, maupun lembaga, agar program ini bisa terus berjalan. Dengan semakin banyaknya dukungan, Dompet Dhuafa akan mampu meningkatkan skema pemberdayaan serta jumlah penerima manfaat. Dengan demikian, lebih banyak lagi keluarga yang bisa merasakan manfaat dari program ini dan akhirnya mencapai kemandirian ekonomi,” ujar perwakilan Dompet Dhuafa.

Harapan besar itu terus tumbuh. Seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat, program ini bukan hanya sekadar membantu individu, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat banyak keluarga yang sempat terpuruk. Dengan tangan-tangan yang saling membantu, Program Bakso Bager bisa menjadi langkah nyata dalam membangun masa depan yang lebih cerah bagi mereka yang membutuhkan. (Dompet Dhuafa).