Gairah Kembali, Pak Ade Petani Nanas Bangkit Lewat IKON Dompet Dhuafa

SUBANG, JAWA BARAT — Jalan berkelok menuju Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, menyuguhkan pemandangan hijau yang menyejukkan. Ladang-ladang nanas menghampar luas di antara perbukitan dan pemukiman warga. Di tengah kawasan agraris yang subur inilah, berdiri sebuah bangunan sederhana namun penuh harapan: Industri Komunal Olahan Nanas atau IKON.

Program pemberdayaan berbasis wakaf dan zakat produktif ini merupakan terobosan dari Dompet Dhuafa untuk mengangkat martabat para petani nanas yang selama ini berada dalam ketimpangan sistem perdagangan. Didirikan sebagai industri pengolahan buah nanas, IKON tak hanya hadir sebagai tempat produksi, tapi juga menjadi harapan dan simbol perubahan arah ekonomi lokal yang lebih adil dan berdaya.

Selama berpuluh-puluh tahun, petani nanas di Subang bergantung pada harga yang ditentukan sepihak oleh tengkulak. Mereka bekerja keras dari pagi hingga sore, namun hasilnya kerap tak sebanding. Harga nanas biasanya dihargai Rp2.000/kg, atau di bawahnya. Angka yang kerap dirasa tidak cukup untuk menutup biaya produksi, apalagi mensejahterakan keluarga.

Namun semua berubah sejak hadirnya IKON. Harga beli nanas kini stabil di Rp4.000/kg, dua kali lipat dari harga sebelumnya. Hal ini memberi kepastian pendapatan bagi petani dan mengembalikan semangat bertani yang sempat pudar.

Tampak dari atas bangunan IKON Dompet Dhuafa di Desa Cirangkong Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang

Para karyawan IKON sedang melakukan briefing sebelum memulai produksi Kamis 26062025

Tendy Satrio Pengawas Program Ekonomi Dompet Dhuafa memberikan arahan kepada para karyawan IKON sebelum memulai produksi Kamis 26062025

Salah satu petani yang merasakan langsung dampaknya adalah Ade Suherlan, yang telah menanam nanas sejak tahun 1990-an.

“Alhamdulillah, sekarang harga stabil dan jauh lebih menguntungkan. Kami tidak lagi takut panen saat harga anjlok,” tutur Pak Ade.

Dengan lahan seluas 3 hektar dan pola tanam bertahap, Pak Ade bisa panen sepanjang tahun, dengan total produksi sekitar 60 ton nanas per tahun. Jika dikalikan harga Rp4.000/kg, ia bisa memperoleh pemasukan kotor hingga Rp240 juta setiap tahun.

Selain sebagai tempat mengolah buah menjadi jus dan selai nanas, IKON menjadi pusat pemberdayaan petani yang menyeluruh. Dompet Dhuafa hadir tidak hanya sebagai pembeli hasil panen (offtaker), tetapi juga sebagai pendamping dalam penguatan kapasitas petani melalui pelatihan, pembinaan, dan pembentukan kelompok tani serta koperasi.

“Kami sering musyawarah dengan tim Dompet Dhuafa. Mereka betul-betul mendengar keluhan kami dan bantu cari solusi,” ungkap Pak Ade.

Kebun nanas Dompet Dhuafa di Desa Cirangkong Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang

Ade Suherlan sedang melakukan panen nanas di kebunnya

Ade Suherlan sedang melakukan panen nanas di kebunnya

Hingga saat ini, tercatat ada sekitar 100 petani nanas yang tergabung dalam kelompok tani binaan Dompet Dhuafa. Kehadiran komunitas ini menciptakan solidaritas antar petani dan memperkuat daya tawar mereka dalam menghadapi dinamika pasar.

Kehadiran IKON pun mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Desa Cirangkong. Pada Kamis (26/06/2025), Kepala Desa Cirangkong, Asep Sutia, mengunjungi langsung fasilitas IKON dan bertemu dengan jajaran manajemen IKON Dompet Dhuafa, para pekerja pabrik, hingga petani binaan.

“Saya sangat kagum dengan kehadiran Dompet Dhuafa di desa kami. Sejak dulu banyak program telah dijalankan, mulai dari sosial, dakwah, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. IKON ini luar biasa. Langkah untuk kesejahteraan petani Cirangkong,” ungkap Asep.

Ia menegaskan bahwa keberadaan Dompet Dhuafa telah memberikan warna baru dalam pembangunan desa. Khususnya melalui IKON, petani yang dulu tidak diperhatikan kini mendapatkan tempat yang layak sebagai pilar ekonomi lokal.

Semangat ini pun ditegaskan oleh Tendy Satrio, selaku Pengawas Program Ekonomi Dompet Dhuafa, yang menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa hadir bukan untuk meraih keuntungan, tetapi untuk menghadirkan kesejahteraan yang merata. Industri ini pun nantinya pemiliknya adalah masyarakat. Karena sahamnya akan diserahkan kepada para mustahik sebagai bentuk penyaluran zakat produktif.

“Hadirnya Dompet Dhuafa di sini memang semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat. Kami ingin mengangkat harkat petani dan memberikan dampak berkelanjutan, bukan hanya sesaat,” ujarnya.

Ade Suherlan menimbang nanas nanas yang baru saja ia panen sebelum diangkut ke IKON

Ade Suherlan sedang melakukan proses panen nanas di kebunnya untuk kemudian diangkut ke IKON

Melalui konsep Communal Industry, Dompet Dhuafa berhasil mengubah ekosistem pertanian tradisional menjadi sistem ekonomi yang inklusif dan produktif. Produk olahan dari IKON pun kini mulai menjangkau pasar lebih luas, baik untuk konsumsi lokal, maupun skala industri.

Di sela-sela kesibukannya bertani, Pak Ade menyimpan harapan yang lebih besar. Ia ingin anak-anak dan cucunya tetap mencintai dunia pertanian dan tidak terjebak pada anggapan bahwa hidup di desa itu tak menjanjikan.

“Saya ingin anak-anak tetap tinggal di desa. Jadi petani itu keren. Bukan kumuh atau kotor, tapi mulia,” tegasnya.

Bersama Dompet Dhuafa, Pak Ade dan ratusan petani nanas lainnya sedang memupuk masa depan. Mereka tak hanya menanam buah, tetapi juga menanam harapan dan mewariskan semangat kemandirian bagi generasi penerus.

IKON akan mampu membuktikan bahwa dengan keberpihakan yang tepat, para petani bisa menjadi pahlawan ekonomi yang sesungguhnya. Program ini menjadi model ideal bagaimana zakat dan wakaf tidak hanya untuk konsumsi sesaat, tapi bisa diolah menjadi kekuatan jangka panjang yang mensejahterakan. 

Teks dan foto : Dompet Dhuafa
Penyunting : Harja Pradika